Selasa, 19 November 2013

Published 07.28 by

pengetahuan dasar tentang ular-basic for snake

T-REC semarang-TUGUMUDA REPTILES COMMUNITY SEMARANG—KOMUNITAS REPTIL SEMARANG
More info :
minat gabung : ( menerima keanggotaan diluar kota Semarang )
08995557626
..................................
KSE – KOMUNITAS SATWA EKSOTIK – EXOTIC PETS COMMUNITY-- INDONESIA
Visit Our Community and Joint W/ Us....Welcome All Over The World
 KSE = KOMUNITAS SATWA EKSOTIK

MENGATASI KENDALA MINAT DAN JARAK

KAMI ADA DI TIAP KOTA DI INDONESIA 
GABUNG.........HUBUNGI 08995557626

.........................





..........KUMPULAN  ARTIKEL-ARTIKEL  BERBAHASA INDONESIA YANG BERKAITAN DENGAN TOPIK JUDUL.....YANG DIAMBIL DARI PENCARIAN DI GOOGLE DENGAN MENYERTAI LINK SUMBER NYA...UNTUK MENAMBAH PENGETAHUAN DAN SEMOGA BERMANFAAT BAGI SEMUA.......







































pengetahuan dasar tentang ular-basic for snake



Ular
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Ular adalah reptil yang tak berkaki dan bertubuh panjang. Ular memiliki sisik seperti kadal dan sama-sama digolongkan ke dalam reptil bersisik (Squamata). Perbedaannya adalah kadal pada umumnya berkaki, memiliki lubang telinga, dan kelopak mata yang dapat dibuka tutup. Akan tetapi untuk kasus-kasus kadal tak berkaki (misalnya Ophisaurus spp.) perbedaan ini menjadi kabur dan tidak dapat dijadikan pegangan.

Habitat dan makanan

Ular merupakan salah satu reptil yang paling sukses berkembang di dunia. Di gunung, hutan, gurun, dataran rendah, lahan pertanian, lingkungan pemukiman, sampai ke lautan, dapat ditemukan ular. Hanya saja, sebagaimana umumnya hewan berdarah dingin, ular semakin jarang ditemui di tempat-tempat yang dingin, seperti di puncak-puncak gunung, di daerah Irlandia dan Selandia baru dan daerah daerah padang salju atau kutub.
Banyak jenis-jenis ular yang sepanjang hidupnya berkelana di pepohonan dan hampir tak pernah menginjak tanah. Banyak jenis yang lain hidup melata di atas permukaan tanah atau menyusup-nyusup di bawah serasah atau tumpukan bebatuan. Sementara sebagian yang lain hidup akuatik atau semi-akuatik di sungai, rawa, danau, dan laut.
Ular memangsa berbagai jenis hewan lebih kecil dari tubuhnya. Ular-ular perairan memangsa ikan, kodok, berudu, dan bahkan telur ikan. Ular pohon dan ular darat memangsa burung, mamalia, kodok, jenis-jenis reptil yang lain, termasuk telur-telurnya. Ular-ular besar seperti ular sanca kembang dapat memangsa kambing, kijang, rusa dan bahkan manusia.

Kebiasaan dan reproduksi

Ular memakan mangsanya bulat-bulat, tanpa dikunyah menjadi keping-keping yang lebih kecil. Gigi di mulut ular tidak memiliki fungsi untuk mengunyah, melainkan sekedar untuk memegang mangsanya agar tidak mudah terlepas. Agar lancar menelan, ular biasanya memilih menelan mangsa dengan kepalanya lebih dahulu.
Beberapa jenis ular, seperti sanca dan ular tikus, membunuh mangsa dengan cara melilitnya hingga tak bisa bernapas. Ular-ular berbisa membunuh mangsa dengan bisanya, yang dapat melumpuhkan sistem saraf pernapasan dan jantung (neurotoksin), atau yang dapat merusak peredaran darah (haemotoksin), dalam beberapa menit saja. Bisa yang disuntikkan melalui gigitan ular itu biasanya sekaligus mengandung enzim pencerna, yang memudahkan pencernaan makanan itu apabila telah ditelan. Untuk menghangatkan tubuh dan juga untuk membantu kelancaran pencernaan, ular kerap kali perlu berjemur (basking) di bawah sinar matahari.
Kebanyakan jenis ular berkembang biak dengan bertelur. Jumlah telurnya bisa beberapa butir saja, hingga puluhan dan ratusan butir. Ular meletakkan telurnya di lubang-lubang tanah, gua, lubang kayu lapuk, atau di bawah timbunan daun-daun kering. Beberapa jenis ular diketahui menunggui telurnya hingga menetas; bahkan ular sanca ‘mengerami’ telur-telurnya.
Sebagian ular, seperti ular kadut belang, ular pucuk dan ular bangkai laut ‘melahirkan’ anak. Sebetulnya tidak melahirkan seperti halnya mamalia, melainkan telurnya berkembang dan menetas di dalam tubuh induknya (ovovivipar), lalu keluar sebagai ular kecil-kecil. Sejenis ular primitif, yakni ular buta atau ular kawat Rhampotyphlops braminus, sejauh ini hanya diketahui yang betinanya. Ular yang mirip cacing kecil ini diduga mampu bertelur dan berbiak tanpa ular jantan (partenogenesis).

Ular dan manusia

Dalam kitab-kitab suci, ular kebanyakan dianggap sebagai musuh manusia. Dalam Alkitab (Perjanjian Lama) diceritakan bahwa Iblis menjelma dalam bentuk ular, dan membujuk Hawa dan Adam sehingga terpedaya dan harus keluar dari Taman Eden. Dalam kisah Mahabharata, Kresna kecil sebagai penjelmaan Dewa Wisnu mengalahkan ular berkepala lima yang jahat. Dalam salah satu Hadits Rasulullah saw. pun ada anjuran untuk membunuh ‘ular hitam yang masuk/berada di dalam rumah’.
Anggapan-anggapan ini turut berpengaruh dan menjadikan kebanyakan orang merasa benci jika bukan takut kepada ular. Meskipun sesungguhnya ketakutan itu kurang beralasan, atau lebih disebabkan oleh kurangnya pengetahuan orang umumnya terhadap sifat-sifat dan bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh ular. Pada kenyataannya, kasus gigitan ular yang sampai menyebabkan kematian sangat jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan kasus kecelakaan di jalan raya, atau kasus kematian oleh penyakit akibat gigitan nyamuk.
Pada pihak yang lain, ular pun telah ratusan atau ribuan tahun dieksploitasi dan dimanfaatkan oleh manusia. Ular kobra yang amat berbisa dan ular sanca pembelit kerap digunakan dalam pertunjukan-pertunjukan keberanian. Empedu, darah dan daging beberapa jenis ular dianggap sebagai obat berkhasiat tinggi, terutama di Tiongkok dan daerah Timur lainnya. Sementara itu kulit beberapa jenis ular memiliki nilai yang tinggi sebagai bahan perhiasan, sepatu dan tas. Seperti halnya biawak, kulit ular (terutama ular sanca, ular karung, dan ular anakonda) yang diperdagangkan di seluruh dunia mencapai ratusan ribu hingga jutaan helai kulit mentah per tahun.
Dalam kenyataannya, ular justru kini semakin punah akibat aneka penangkapan, pembunuhan yang tidak berdasar, serta kerusakan habitat dan lingkungan hidupnya. Ular-ular yang dulu turut serta berperan dalam mengontrol populasi tikus di sawah dan kebun, kini umumnya telah habis atau menyusut jumlahnya. Maka tidak heran, di tempat-tempat yang sawah dan padinya rusak dilanda gerombolan tikus, seperti di beberapa tempat di Kabupaten Sleman, Jogjakarta, petani setempat kini memerlukan untuk melepaskan kembali (reintroduksi) berjenis-jenis ular sawah dan melarang pemburuan ular di desanya.
Ular tidak memiliki daun telinga dan gendang telinga, tidak mempunya keistimewaan ada ketajaman indera mata maupun telinga. Matanya selalu terbuka dan dilapisi selaput tipis sehingga mudah melihat gerakan di sekelilingnya, namun tidak dapat memfokuskan pandangannya. Ular baru dapat melihat dengan jelas dalam jarak dekat.
Indera yang menjadi andalan ular adalah sisik pada perutnya, yang dapat menangkap getaran langkah manusia atau binatang lainnya.
Lubang yang terdapat antara mata dan mulut ular dapat berfungsi sebagai thermosensorik (sensor panas). Organ ini biasa disebut ceruk atau organ Jacobson. Ular juga dapat mengetahui perubahan suhu karena kedatangan makhluk lainnya, contohnya ular tanah memiliki ceruk yang peka sekali.
Manusia sebenarnya tidak usah takut pada ular karena ular sendiri yang sebenarnya takut pada manusia. Ular tidak dapat mengejar manusia, gerakannya yang lamban bukan tandingan manusia. Rata rata ular bergerak sekitar 1,6 km per jam, jenis tercepat adalah ular mamba di Afrika yang bisa lari dengan kecepatan 11 km per jam. Sedangkan manusia, sebagai perbandingan, dapat berlari antara 16-24 km per jam.

Macam-macam ular

Ular ada yang berbisa karena memiliki venom, namun banyak pula yang tidak. Dari kebanyakan ular yang berbisa, kebanyakan bisanya tidak cukup berbahaya bagi manusia. Umumnya, ular berusaha menghindar bila bertemu manusia.
Ular-ular primitif, seperti ular kawat, ular karung, ular kepala dua, dan ular sanca, tidak berbisa. Ular-ular yang berbisa kebanyakan termasuk suku Colubridae, tetapi bisanya pada umumnya memiliki kadar venom yang lemah. Ular-ular yang berbisa kuat di Indonesia biasanya termasuk ke dalam salah satu suku Elapidae seperti ular sendok, ular belang, dan ular cabai. Kemudian yang termasuk dalam suku Hydrophiidae seperti ular laut, dan Viperidae seperti ular tanah, ular bangkai laut, dan ular bandotan.
Beberapa jenisnya, sebagai contoh:
http://id.wikipedia.org/wiki/Ular

Biologi Ular, Ciri Fisik Ular.

a. Sisik Ular
Sisik yang dimiliki oleh ular adalah sisik yang berkesinambungan antara yang satu dengan yang lainnya, sisik ini terbentuk atas lapisan tanduk dan pada masa-masa tertentu akan mengalami kematian, sehingga ular pada 40 hari sampai 2 bulan sekali akan mengalami pergantian kulit. Ular akan menanggalkan kulit lamanya dengan cara menggosokan moncongnya pada permukaan yang kasar. Dengan demikian, kulitnya akan menjadi longgar dan ular akan keluar dengan lapisan sisik yang baru.
Bentuk-bentuk sisik yang dimiliki seekor ular diantaranya yaitu bulat, memanjang, meruncing, dan berlunas, sisik di sini berfungsi sebagai lapisan tahan air dan sebagai penahan agar dirinya merasa tidak kering.

b. Organ Dalam Ular
Di bawah sisik-sisik, daging, dan tulang terdapat organ-organ tubuh yang menopang kehidupan ular. Sebagian besar organ dalam seekor ular berukuran panjang dan ramping, sehingga muat di dalam tubuhnya yang memanjang. Organ-organ yang berpasangan, misalnya ginjal, ovarium, dan paru-paru terletak bersebelahan seperti pada kebanyakan hewan. Paru-paru kirinya sangat kecil dan kurang berguna paru-paru yang kanannya yang besar digunakan untuk bernafas.

c. Ukuran
Meskipun fosil ular sepanjang 15 m sudah diketemukan, namun hampir dapat dipastikan bahwa ular terpanjang pada dewasa ini panjangnya kurang dari 12 m. Ular terpanjang yang pernah diukur yaitu ular sanca kembang (Python reticulatus) dengan panjang mencapai 10 m. Sedangkan ular terkecil (Blind Snake) yang pernah dijumpai panjangnya hanya 12,5 cm.

d. Organ Pembau
Seperti hewan vertebrata lainnya, ular menggunakan bau, pandangan, dan bunyi untuk mengetahui keadaan di sekitarnya. Ular membaui melalui lubang hidung, yang dilengkapi dengan organ Jacobson, yaitu suatu cekungan di langit-langit mulut yang berfungsi “merasakan” udara sekitar. Seekor ular mengeluar-masukkan lidahnya untuk menangkap molekul bau dan memindahkannya ke organ Jacobson secara kimiawi (khemoreseptor). Organ Jacobson dilapisi sel-sel yang dapat menganalisa bau.

e. Sensor Panas
Selain mempunyai organ Jacobson beberapa jenis ular ada yang dilengkapi dengan lubang sensor panas (Pit Nose), yang letaknya berada di atas bibir. Lubang ini berfungsi sebagai pendeteksi panas tubuh, dilapisi selapis sel yang disebut thermoreseptor yang terhubung ke otak melalui saraf. Pesan yang disampaikan kepada otak adalah lokasi dan jarak mangsa berada. Ular yang biasa dilengkapi dengan Pit Nose ini biasanya tergolong dalam familia Viperidae dan sub familianya Crotalinae, dan ular dalam familia Boidae.

f. Cara Makan
Teknik makan pada ular merupakan teknik yang sudah mengalami modifikasi dengan sempurna, dalam hal ini teknik mereka untuk menelan mangsanya, bahkan sampai mangsa yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya. Teknik ini berkembang dikarenakan ular mempunyai ruas tulang belakang lentur yang terdiri dari sekitar 400 vertebra. Terkecuali vertebra ekor, semua vertebra tersebut mempunyai sepasang tulang rusuk. Bagian bawah tulang rusuk itu tidak menyambung sehingga dapat merenggang ketika ular menelan mangsa yang lebih besar. Selain itu sambungan rahangnya kendur sehingga mulut ular dapat terbuka lebar ketika menelan mangsanya.

g. Tipe Gigi
Ular juga memiliki gigi yang berfungsi untuk menangkap mangsa dan membantu ular dalam menelan. Rahang bawah tempat tumbuh gigi pada ular tidak menyatu fungsinya agar makanan yang ukurannya besar dapat masuk dengan mudah, sehingga ular dapat memasukkan makanannya hingga ukurannya 3 kali ukuran kepalanya.
Tipe gigi yang dimiliki yaitu Aglyhpa (bentuk gigi besar atau sedang dan tidak ada gigi bisa), contoh: Sanca Kembang (Python reticulatus) dan Ular Pelangi (Xenopeltis unicolor), Ophistoglypha (bentuk gigi mempunyai bisa tetapi pendek dan terletak di bagian belakang rahang atas), contoh: Ular Terawang (Elaphe radiata) dan Ular Cincin Emas (Boiga dendrophila), Proteroglypa (bentuk gigi taring letaknya di rahang atas bagian depan dengan ukuran tidak terlalu depan dan beralur), contoh: Ular Cobra (Naja-naja putatrix) dan Ular Cabe (Maticora intestinalis), dan Solenoglypa (bentuk gigi taring berukuran besar, panjang dan berbentuk kait, letaknya di bagian depan dan dapat dilipat ke belakang, dan sejajar rahang), contoh: Ular King Cobra (Ophiophagus hannah) dan Ular Bandotan Puspo (Vipera russeli).
Tipe taring yang dimiliki oleh ular digunakan juga sebagai alat untuk membela diri dan alat pembantu penangkap mangsa yang disertai oleh saluran bisa. Pembedaan tipe taring bisa pada ular dibedakan atas Proteroglypa dan Solenoglypa. Taring berwarna putih dengan selaput pembungkus taring yang berwarna putih agak tebal, guna melindungi mulut agar tidak terluka serta memudahkan ular untuk menelan mangsa. Selaput ini disebut juga (hymneglypha).

h. Bisa Ular
Penggolongan bisa dibagi atas dua, yaitu Neurotoxin bagi ular yang memiliki Ordo Elapidae (kerjanya menyerang jaringan saraf, terutama sistem saraf pada pusat pernafasan). Gejala yang ditimbulkan bagi korban yang terpatuk akan merasakan pening, muntah, perasaan tidak enak, pada luka patukan 1-2 jam akan membengkak, atau pada umumnya akan terjadi necrosis (kelemayuh), jika tidak mendapat pertolongan maka korban akan langsung mati setelah mengalami keracunan berat. Yang kedua yaitu Hemotoxin bagi ular yang memiliki Ordo Viperidae (kerjanya merusak jaringan darah korban, utama pada sel-sel darah dan pembuluh darah). Gejala yang ditimbulkan bagi korban yang terpatuk akan merasakan pusing, mual, dan kadang diare. Pada bekas patukan terasa panas dan sakit, pembengkakan terjadi selama 30 menit sampai 1 jam, dan jarang terjadi necrosis, kecuali jika terpatuk di jari (Budhy, 1986).
Bisa atau venom yang dimiliki oleh ular dihasilkan oleh kelenjar yang terletak di dalam kepala yang juga berfungsi sebagai alat bantu dalam sistem pencernaannya, selain sebagai alat pertahanan diri. Bisa dikeluarkan melalui saluran yang ada di dalam taring untuk disuntikkan kepada mangsanya, dalam kasus yang lain Ular Cobra dapat menyemburkan bisanya sampai ketinggian 2 meter, dan biasanya diarahkan pada mata lawannya. Hal ini disebabkan karena ujung celah saluran bisa yang dimiliki oleh Ular Cobra jauh lebih kecil dibandingkan dengan ular berbisa lainnya seperti Ular Bangkai laut (Trimeresurus alborabris).

sumber:R0ch4′s Blog
https://www.facebook.com/gepeeres/posts/330001387080044

Kebanyakan orang akan merasa panik dan takut jika digigit ular. Sebenarnya hal ini bisa dihindari jika mengetahui ciri ular dan cara penanganannya. Kebanyakan orang menganggap semua ular berbahaya, dan bila bertemu akan berusaha membunuhnya. Terlebih jika tergigit ular, biasanya manusia melakukan penanganan gigitan yang berlebihan dan akibatnya malah jadi fatal dan merugikan manusia sendiri.  Sebaliknya jika penanganan efek gigitan ular berbisa tinggi dilakukan dengan lambat dan salah, maka dapat menyebabkan dampak yang fatal bagi korban.
Efek gigitan racun ular ke tubuh manusia selain ditentukan oleh kadar bisa/racun itu sendiri juga dipengaruhi dari daya tahan tubuh manusia yang digigit. Semakin baik “pertahanan” alami atau antibody yang dimiliki, dan semakin sehat metabolisme tubuh manusia, efek gigitan akan berkurang rasanya. Jika, dibandingkan dengan korban yang memiliki imunitas redah atau sedang dalam kondisi tidak fit.
Ular yang berbisa tinggi dan mematikan memiliki tipe gigi Proteroglypha dan Solenoglypha. Jika manusia tergigit kelompok ular ini, prinsipnya adalah segera mengeluarkan bisa keluar dari tubuh, hambat  laju racun menuju ke jantung dan secepat mungkin berikan pertolongan pertama yang tepat dan benar. Jika tidak tertolong dan salah penanganan akan berakibat cukup fatal yaitu kematian. Jika tertolong, biasanya akan meninggalkan cacat atau bekas pada gigitan. Sebenarnya, jumlah dan jenis ular berbisa tinggi lebih sedikit dibanding kelompok yang lain, kecuali semua jenis ular laut yang berbisa tinggi dan sangat mematikan.
Kandungan protein yang keluar pada taring ular, merupakan bisa ular. Jika kita mengamati dengan teliti, ada beberapa hal yang dapat membedakan ular yang berbisa tinggi dan berbisa rendah. Berikut adalah cara membedakan ciri  ular berbisa dan tidak berbisa. Tapi beberapa ciri berikut masih belum menunjukkan tingkatan bisa ular secara tepat hingga perlu pengamatan dan penelitian lebih lanjut.
Ciri ular berbisa rendah biasanya gerakannya cepat, takut pada musuh, agresif, beraktifitas pada siang hari, membunuh mangsanya dengan membelit, bentuk kepalanya bulat  telur (oval). tidak memiliki taring bisa, gigitannya tidak mematikan & setelah menggigit langsung lari
Sedangkan ciri ular berbisa tinggi adalah: Gerakannya lambat, tenang, penuh percaya diri, beraktifitas pada malam hari (nocturnal), membunuh mangsanya dengan menyuntikkan bisa, bentuk kepalanya cenderung segitiga sempurna atau seperti mata panah, memiliki taring bisa, racun mematikan, kanibal & setelah menggigit, ular akan tetap tak bergerak dari tempatnya
Tapi ada beberapa pengecualian yang tidak sesuai dengan ketentuan yaitu:
-         Ular yang berbisa tinggi, tetapi kepalanya oval (bulat telur), agresif, keluar siang, malam, seperti King Kobra, Kobra Naja naja sputratix.
-         Berbisa tinggi, tetapi kepala oval, gerakan tenang, contohnya Ular weling, Ular welang & Ular picung/pudak seruni.
-         Tidak berbisa, keluar malam hari dan gerakan lamban, contoh: Semua jenis ular phyton dan ular boa & Ular Pelangi (Xenopeltis unicolor).

Ciri-Ciri Ular


Kebanyakan orang merasa panik dan takut bila bertemu ular atau bahkan sampai digigit ular.
Banyak orang menganggap semua ular itu berbahaya dan apabila bertemu ular,mereka akan berusaha membunuhnya. Sebenarnya tidak semua ular berbahaya.
Kebanyakan orang apabila tergigit ular,mereka akan panik dan mungkin melakukan tindakan yang salah yang akan berakibat fatal bagi diri mereka sendiri. Hal ini bisa dihindari jika mengetahui ciri ular dan cara untuk menanganinya.
Efek yang timbul dari gigitan racun ular ke tubuh manusia selain ditentukan oleh kadar bisa/racun itu sendiri juga dipengaruhi dari daya tahan tubuh manusia yang digigit. Apabila tubuh dalam keadaan sehat maka efek dari gigitan ular berkurang rasanya.
Ular yang berbisa tinggi dan mematikan memiliki tipe gigi Proteroglypha dan Solenoglypha. Jika manusia tergigit kelompok ular ini, segeralah mengeluarkan bisa keluar dari tubuh, hambat  laju racun menuju ke jantung dan secepat mungkin berikan pertolongan pertama yang tepat dan benar. Jika tidak tertolong dan salah penanganan akan berakibat cukup fatal yaitu kematian.
Berikut ini adalah cara untuk membedakan ciri  ular berbisa dan tidak berbisa. Tapi beberapa ciri berikut masih belum menunjukkan tingkatan bisa ular secara tepat hingga perlu pengamatan dan penelitian lebih lanjut.
Ciri ular berbisa rendah :
* Biasanya gerakannya cepat, takut pada musuh, agresif, beraktifitas pada siang hari,
* Membunuh mangsanya dengan membelit,
* Bentuk kepalanya bulat  telur (oval),tidak memiliki taring bisa,
* Gigitannya tidak mematikan dan setelah menggigit langsung lari.
Ciri ular berbisa tinggi :
* Gerakannya lambat, tenang, penuh percaya diri, beraktifitas pada malam hari (nocturnal),
* Membunuh mangsanya dengan menyuntikkan bisa,
* Bentuk kepalanya cenderung segitiga sempurna atau seperti mata panah,
* Memiliki taring bisa, racun mematikan, kanibal & setelah menggigit,ular akan tetap tak
bergerak dari tempatnya.
Tapi ada beberapa pengecualian yang tidak sesuai dengan ketentuan yaitu:
* Ular yang berbisa tinggi, tetapi kepalanya oval (bulat telur), agresif, keluar siang, malam,
seperti King Kobra, Kobra Naja naja sputratix.
* Berbisa tinggi, tetapi kepala oval, gerakan tenang, contohnya Ular weling, Ular welang &
Ular picung/pudak seruni.
* Tidak berbisa, keluar malam hari dan gerakan lamban, contoh: Semua jenis ular phyton dan
ular boa & Ular Pelangi (Xenopeltis unicolor).

      edit